BAB
1
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
A.Latar Belakang
Perdarahan Postpartum atau perdarahan pasca persalinan adalah perdarahan lebih dari 500 – 600 ml selama 24 jam setelah anak lahir. Perdarahan Postpartum adalah perdarahan dalam kala IV lebih dari 500 – 600 cc dalam 24 jam setelah anak dan plasenta lahir. Haemoragic Post Partum ( HPP ) adalah hilangnya darah lebih dari 500 ml dalam 24 jam pertama setelah lahirnya bayi. Normalnya, perdarahan dari tempat plasenta terutama dikontrol oleh kontraksi dan retraksi anyaman serat-serat otot serta agregasi trombosit dan trombus fibrin di dalam pembuluh darah desidua. Perdarahan Postpartum dibagi atas dua bagian yaitu perdarahan Postpartum dini dan lanjut. Perdarahan Postpartum dini adalah perdarahan yang berlebihan selama 24 jam pertama setelah kala tiga persalinan selesai, sedangkan perdarahan Postpartum lanjut adalah perdarahan yang berlebihan selama masa nifas, termasuk periode 24 jam pertama setelah kala tiga persalinan selesai.
B. Perumusan Masalah
1. Masalah Umuma
Bagaimana cara menyusun asuhan keperawatan Pasien Postpartum (postnatal)
2. Sub Masalah
Berdasarkan masalah umum diatas, maka dengan ini penulis dapat membuat Sub Masalah sebagai berikut :
a. Bagaimana gejala Postpartum
b. Bagaimana tindakan perawatan pada pasien Postpartum?
c. Asuhan keperawatan pada pasien dengan Postpartum?
Perdarahan Postpartum atau perdarahan pasca persalinan adalah perdarahan lebih dari 500 – 600 ml selama 24 jam setelah anak lahir. Perdarahan Postpartum adalah perdarahan dalam kala IV lebih dari 500 – 600 cc dalam 24 jam setelah anak dan plasenta lahir. Haemoragic Post Partum ( HPP ) adalah hilangnya darah lebih dari 500 ml dalam 24 jam pertama setelah lahirnya bayi. Normalnya, perdarahan dari tempat plasenta terutama dikontrol oleh kontraksi dan retraksi anyaman serat-serat otot serta agregasi trombosit dan trombus fibrin di dalam pembuluh darah desidua. Perdarahan Postpartum dibagi atas dua bagian yaitu perdarahan Postpartum dini dan lanjut. Perdarahan Postpartum dini adalah perdarahan yang berlebihan selama 24 jam pertama setelah kala tiga persalinan selesai, sedangkan perdarahan Postpartum lanjut adalah perdarahan yang berlebihan selama masa nifas, termasuk periode 24 jam pertama setelah kala tiga persalinan selesai.
B. Perumusan Masalah
1. Masalah Umuma
Bagaimana cara menyusun asuhan keperawatan Pasien Postpartum (postnatal)
2. Sub Masalah
Berdasarkan masalah umum diatas, maka dengan ini penulis dapat membuat Sub Masalah sebagai berikut :
a. Bagaimana gejala Postpartum
b. Bagaimana tindakan perawatan pada pasien Postpartum?
c. Asuhan keperawatan pada pasien dengan Postpartum?
C. Tujuan Penulisan
Tujuan dari penulisan makalah ini antara lain :
Untuk mengetahui defenisi dari masa postnatal
Tujuan dari penulisan makalah ini antara lain :
Untuk mengetahui defenisi dari masa postnatal
Untuk mengetahui tanda gejala postnatal
Untuk mengetahui fisiologis postnatal
Untuk mengetahui
perubahan sistem reproduksi
Untuk mengetahui
adaptasi psikologi
Untuk mengetahui
Perubahan yang dapat terjadi selama periode Postpartum(postnatal)
Untuk mengetahui
komplikasi postnatal
Untuk mengetahui
askep ibu pada masa postnatal
D. Manfaat Penulisan
Adapun manfaat penulisan karya tulis ini bermanfaat bagi mahasiswa, lembaga penelitian atau dosen.
1. Bagi Mahasiswa
Agar mahasiswa mengetahui Askep yang baik dilakukan pada pasien Postpartum serta membantu mahasiswa berperan aktif dalam menanggulangi pasien Postpartum
2. Bagi Lembaga Pendidikan
Untuk mempermudah lembaga pendidikan mengetahui lebih dalam tentang Askep pada pasien dengan Postpartum
Adapun manfaat penulisan karya tulis ini bermanfaat bagi mahasiswa, lembaga penelitian atau dosen.
1. Bagi Mahasiswa
Agar mahasiswa mengetahui Askep yang baik dilakukan pada pasien Postpartum serta membantu mahasiswa berperan aktif dalam menanggulangi pasien Postpartum
2. Bagi Lembaga Pendidikan
Untuk mempermudah lembaga pendidikan mengetahui lebih dalam tentang Askep pada pasien dengan Postpartum
E. Metode Penulisan
Metode yang digunakan dalam penulisan ini adalah metode literature dan sumber internet yang di ambil dari beberapa media yaitu Text Book dan Studi Kepustakaan : membaca dan mempelajari buku-buku yang berhubungan dengan Postpartum.
Metode yang digunakan dalam penulisan ini adalah metode literature dan sumber internet yang di ambil dari beberapa media yaitu Text Book dan Studi Kepustakaan : membaca dan mempelajari buku-buku yang berhubungan dengan Postpartum.
F. Sistematika
Penulisan
Untuk dapat mempermudah pembaca dalam mengerti dan memahami isi Makalah ini, Penulis mencantumkan Sistematika Penulisan Makalah ini terdiri dari V Bab, yaitu :
Bab I : Pendahuluan
Bab II : Konsep dasar postnatal
Untuk dapat mempermudah pembaca dalam mengerti dan memahami isi Makalah ini, Penulis mencantumkan Sistematika Penulisan Makalah ini terdiri dari V Bab, yaitu :
Bab I : Pendahuluan
Bab II : Konsep dasar postnatal
Bab III : Askep
Teoritis
Bab IV : Askep
Bab V : Penutup
Daftar isi
BAB
II
KONSEP DASAR POSTNATAL
KONSEP DASAR POSTNATAL
A. Pengertian
– Post Natal adalah masa setelah partus dan berakhir setelah kira-kira 6 minggu (Arif Mansyur,1999).
– Post natal adalah masa pulih kembali seperti pra hamil,berlangsung selama 6 minggu (Abdul Bari Saefudin, 2002).
– Masa nifas adalah periode sekitar 6 minggu sesudah melahirkan anak, ketika alat – alat reproduksi tengah kembali kepada kondisi normal. (Barbara F. weller 2005).
Periode post natal dibagi 3 yaitu:
1. Immediatelly post natal : 24 jam pertama
2. Early post natal: minggu pertama
3. Late post natal : minggu ke 2 sampai ke 6
– Post Natal adalah masa setelah partus dan berakhir setelah kira-kira 6 minggu (Arif Mansyur,1999).
– Post natal adalah masa pulih kembali seperti pra hamil,berlangsung selama 6 minggu (Abdul Bari Saefudin, 2002).
– Masa nifas adalah periode sekitar 6 minggu sesudah melahirkan anak, ketika alat – alat reproduksi tengah kembali kepada kondisi normal. (Barbara F. weller 2005).
Periode post natal dibagi 3 yaitu:
1. Immediatelly post natal : 24 jam pertama
2. Early post natal: minggu pertama
3. Late post natal : minggu ke 2 sampai ke 6
Tujuan perawatan postnatal (srtraight 2001)
– Meningkatkan involusi uterus normal dan mengembalikan pada keadaan sebelum hamil.
– Mencegah atau meminimalkan komplikasi post partum
– Meningkatkan kenyamanan dan pennyembuhan pelvis perineal dan jaringan perineal.
– Membantu perbaikan fungsi tubuh yang normal
– Meningkatkan pemahaman perubahan psiologis dan psikologis
– Mefasilitasi perawatan bayi kedalam unit keluarga
– Mensuport keterampilan orang tua dan attechman ibu dan bayi
– Memberikan perencanaan pulang yang efektif
– Meningkatkan involusi uterus normal dan mengembalikan pada keadaan sebelum hamil.
– Mencegah atau meminimalkan komplikasi post partum
– Meningkatkan kenyamanan dan pennyembuhan pelvis perineal dan jaringan perineal.
– Membantu perbaikan fungsi tubuh yang normal
– Meningkatkan pemahaman perubahan psiologis dan psikologis
– Mefasilitasi perawatan bayi kedalam unit keluarga
– Mensuport keterampilan orang tua dan attechman ibu dan bayi
– Memberikan perencanaan pulang yang efektif
Faktor yang memperngaruhi
pengalaman post partum
– Persalinan normal dan bayi yang dilahirkan
– Persiapan persalinan dan menjadi orang tua
– Masa transisi menjadi orang tua
– Peran keluarga yang diharapkan
– Persalinan normal dan bayi yang dilahirkan
– Persiapan persalinan dan menjadi orang tua
– Masa transisi menjadi orang tua
– Peran keluarga yang diharapkan
– Pengalaman keluarga pada
kelahiran anak
– Sensitifikasi dan efektifitas perawat dan tenaga profesional lainnya
– Sensitifikasi dan efektifitas perawat dan tenaga profesional lainnya
Faktor resiko untuk terjadinya
komplikasi post partum :
– Pre ekslamsi dan ekslamsi
– Diabetes
– Masalah jantung
– Overdistensi uterus akibat bayi kembar atau hydramnion
– Abruptio placenta atau placenta previa
– Persalinan lama dan sulit
– Pre ekslamsi dan ekslamsi
– Diabetes
– Masalah jantung
– Overdistensi uterus akibat bayi kembar atau hydramnion
– Abruptio placenta atau placenta previa
– Persalinan lama dan sulit
B. Tanda dan gejala yang menjadi
perhatian untuk dilaporkan :
– Peningkatan perdarahan : bekuan darah dan keluarnya jaringan
– Keluar darah segar terus menerus setelah ppersalinan
– Nyeri yang hebat
– Peningkatan suhu
– Perasaan kandug kemih yang penuh dan ketidakmampuan mengosongkan
– Perluasan hematoma
– Muka pucat,dingin, kulit lembab,peningkatan HR ,chest pain,batuk.
C. Perubahan fisiologis
1. Tanda-tanda vital
– Suhu : 24 Jam pertama dapat terjadi peningkatan suhu 38 c sebagai akibat oleh nidasi selama persalinan
– Nadi : dalam waktu 6-8 hari setelah melahirkan ditemukan adanya nadi normal kembali dalam waktu 2 bulan n: 50x – 70x /menit
– Pernafasan : akan kembali normal sama sebelum melahirkan
– Tekanan darah : mengalami sedikit perubahan pada 48 jam pertam dapat terjadi hipotensi orthostatik .
2. Sistem kardiovaskuler
Cardiac output beberapa saat setelah melahirkan , cardiac output setelah melahirkan menurun 50% dari sebelum melahirkan . Pada persainan normal darah yang dikeluarkan kurang lebih 400-500 cc masih dapat ditoleransi
– Peningkatan perdarahan : bekuan darah dan keluarnya jaringan
– Keluar darah segar terus menerus setelah ppersalinan
– Nyeri yang hebat
– Peningkatan suhu
– Perasaan kandug kemih yang penuh dan ketidakmampuan mengosongkan
– Perluasan hematoma
– Muka pucat,dingin, kulit lembab,peningkatan HR ,chest pain,batuk.
C. Perubahan fisiologis
1. Tanda-tanda vital
– Suhu : 24 Jam pertama dapat terjadi peningkatan suhu 38 c sebagai akibat oleh nidasi selama persalinan
– Nadi : dalam waktu 6-8 hari setelah melahirkan ditemukan adanya nadi normal kembali dalam waktu 2 bulan n: 50x – 70x /menit
– Pernafasan : akan kembali normal sama sebelum melahirkan
– Tekanan darah : mengalami sedikit perubahan pada 48 jam pertam dapat terjadi hipotensi orthostatik .
2. Sistem kardiovaskuler
Cardiac output beberapa saat setelah melahirkan , cardiac output setelah melahirkan menurun 50% dari sebelum melahirkan . Pada persainan normal darah yang dikeluarkan kurang lebih 400-500 cc masih dapat ditoleransi
3. Sistem endokrin
Blorman placenta pada periode post partum terjadi perubahan roduksi homon,kadarestrogen dan progesteron menurun secara mencolok .
4. Sistem perkemihan
Vesika urinaria mengalami trauma akibat tekanan > edema>menimbulkan overdistensi dan pemenuhan antong kemih tidak sempurna > kurang sensitif dan kapasitas bertambah >sesudah berkemih masih ada residu.
5. Sistem gastrointestinal
Pada minggu pertama post partum fungsi usus besar kembali normal, akibat adanya penurunan mobilitas usus dan tonus otot abdomen dan kehilangan cairan,rasa tidak nyaman pada perinium.
6. Sistem integumen
Kloasma yang muncul pada masa hamil bisa menghilang,sedangkan hiperpigmentasi diaerola dan nigra tidak menghilang seluruhnya atau tidak menetap kulit yang menegang pada payudara ,abdomen ,paha dan panggur mungkin memudar ,tetapi tidak menghilang.
Blorman placenta pada periode post partum terjadi perubahan roduksi homon,kadarestrogen dan progesteron menurun secara mencolok .
4. Sistem perkemihan
Vesika urinaria mengalami trauma akibat tekanan > edema>menimbulkan overdistensi dan pemenuhan antong kemih tidak sempurna > kurang sensitif dan kapasitas bertambah >sesudah berkemih masih ada residu.
5. Sistem gastrointestinal
Pada minggu pertama post partum fungsi usus besar kembali normal, akibat adanya penurunan mobilitas usus dan tonus otot abdomen dan kehilangan cairan,rasa tidak nyaman pada perinium.
6. Sistem integumen
Kloasma yang muncul pada masa hamil bisa menghilang,sedangkan hiperpigmentasi diaerola dan nigra tidak menghilang seluruhnya atau tidak menetap kulit yang menegang pada payudara ,abdomen ,paha dan panggur mungkin memudar ,tetapi tidak menghilang.
D. Perubahan sistem reproduksi
– Uterus
Ukuran akan tetap sama sampai 2 hari, kemudian berkurang (involusi)dan turun kurang lebih 1 ruas jari perhari
– Lochea
Keluaran dan uterus selama 3 minggu pertama setelah melahirkan dibagi 3 tipe:
Ø Lochea mbra : bewarna merah gelap terjadi 2-3 hari pertama, mengandung sel-sel efitel, oritrosit,leukosit desidua dan bau karakteristik manusia
Ø Lochea serosa : bewarna merah muda sampai kecoklatan ,terjadi 3-10 hari setelah kehamilan
Ø Lochea alba : hampir tidak bewarna samapi krim kekuningan,terjadi 10-3 minggu setelah melahirkan.
– Uterus
Ukuran akan tetap sama sampai 2 hari, kemudian berkurang (involusi)dan turun kurang lebih 1 ruas jari perhari
– Lochea
Keluaran dan uterus selama 3 minggu pertama setelah melahirkan dibagi 3 tipe:
Ø Lochea mbra : bewarna merah gelap terjadi 2-3 hari pertama, mengandung sel-sel efitel, oritrosit,leukosit desidua dan bau karakteristik manusia
Ø Lochea serosa : bewarna merah muda sampai kecoklatan ,terjadi 3-10 hari setelah kehamilan
Ø Lochea alba : hampir tidak bewarna samapi krim kekuningan,terjadi 10-3 minggu setelah melahirkan.
– Serviks
Menjadi lebih tebal dan lebih keras pada akhir minggu pertama kelahiran anak bisa mengakibatkan perubahan permanen pada osteum serviks dari bulat menjadi memanjang.
– Vagina
Halis dan membengkak dengan tonus otot yang buruk mgae tampak kembali 3-4 minggu pasca partum.
– Perinium
Segera setelah melahirkan, perineum menjadi kendur karena sebelumnya teregang oleh karena tekanan kepala bayi yang bergerak maju.Pada postnatal hari ke 5, perineum sudah mendapat kembali sebagian besar tonusnya sekalipun tetap lebih kendur dari pada keadaan sebelum melahirkan.
– Payudara
Payudara mencapai maturasi yang penuh selama masa nifas kecuali jika laktasi disupresi, payudara akan menjadi lebih besar, lebih kencang dan mula – mula lebih nyeri tekan sebagai reaksi terhadap perubahan status hormonal serta dimulainya laktasi
Menjadi lebih tebal dan lebih keras pada akhir minggu pertama kelahiran anak bisa mengakibatkan perubahan permanen pada osteum serviks dari bulat menjadi memanjang.
– Vagina
Halis dan membengkak dengan tonus otot yang buruk mgae tampak kembali 3-4 minggu pasca partum.
– Perinium
Segera setelah melahirkan, perineum menjadi kendur karena sebelumnya teregang oleh karena tekanan kepala bayi yang bergerak maju.Pada postnatal hari ke 5, perineum sudah mendapat kembali sebagian besar tonusnya sekalipun tetap lebih kendur dari pada keadaan sebelum melahirkan.
– Payudara
Payudara mencapai maturasi yang penuh selama masa nifas kecuali jika laktasi disupresi, payudara akan menjadi lebih besar, lebih kencang dan mula – mula lebih nyeri tekan sebagai reaksi terhadap perubahan status hormonal serta dimulainya laktasi
E. Adaptasi psikologis
Periode pasca partum, menggambarkan suatu stress emossional bagi ibu baru menjadi lebih sulit dengan perubahan psikologis besar yang terjadi.
Faktor –faktor yang mempengaruhi keberhasilan peran menjadi orang tua selama pasca partum:
– Repon oleh dukungan keluarga dan teman
– Hubungan pengalaman kelahiran dengan harapan dan aspirasi
– Pengalaman melahirkan dan membesarkan anak
– Pengaruh budaya
1. Menurut Rubin fase adaptasi dibagi menjadi 3 fase :
a. Fase taking in yaitu fase ketergantungan, hari pertama sampai dengan hari ketiga post partum, fokus pada diri sendiri, berperilaku pasif dan ketergantungan, menyatakan ingin makan dan tidur, sulit membuat keputusan.
b. Fase taking hold yaitu fase transisi dari ketergantungan kemandiri, dari ketiga sampai dengan kesepuluh post partum, fokus sudah ke bayi, mandiri dalam perawatan diri, mulai memperhatikan fungsi tubuh sendiri dan bayi, mulai terbuka dalam menerima pendidikan kesehatan.
c. Fase letting go yaitu fase dimana sudah mengambil tanggung jawab peran yang baru, hari kesepuluh sampai dengan enam minggu post partum, ibu sudah melaksanakan fungsinya, ayah berperan sebagai ayah dan berinteraksi dengan bayi.
Periode pasca partum, menggambarkan suatu stress emossional bagi ibu baru menjadi lebih sulit dengan perubahan psikologis besar yang terjadi.
Faktor –faktor yang mempengaruhi keberhasilan peran menjadi orang tua selama pasca partum:
– Repon oleh dukungan keluarga dan teman
– Hubungan pengalaman kelahiran dengan harapan dan aspirasi
– Pengalaman melahirkan dan membesarkan anak
– Pengaruh budaya
1. Menurut Rubin fase adaptasi dibagi menjadi 3 fase :
a. Fase taking in yaitu fase ketergantungan, hari pertama sampai dengan hari ketiga post partum, fokus pada diri sendiri, berperilaku pasif dan ketergantungan, menyatakan ingin makan dan tidur, sulit membuat keputusan.
b. Fase taking hold yaitu fase transisi dari ketergantungan kemandiri, dari ketiga sampai dengan kesepuluh post partum, fokus sudah ke bayi, mandiri dalam perawatan diri, mulai memperhatikan fungsi tubuh sendiri dan bayi, mulai terbuka dalam menerima pendidikan kesehatan.
c. Fase letting go yaitu fase dimana sudah mengambil tanggung jawab peran yang baru, hari kesepuluh sampai dengan enam minggu post partum, ibu sudah melaksanakan fungsinya, ayah berperan sebagai ayah dan berinteraksi dengan bayi.
F. Perubahan yang dapat
terjadi selama periode Postpartum(postnatal)
– Kardiovaskuler : penurunan volume darah karena diuresis, kehilangan darah. Dapat menyebabkan orthostatik hypontention, tingginya waktu pembekuan.
– Gastrointestinal: konstipasi haemoroid
– Urinary : retensi uriene catheterisasi dapat menyebabkan UTI
– Sexsuallity: turunnya libido karena pengaruh hormon
G. Komplikasi post partum
– Infeksi pada sel reproduksi
– Infeksi pada sel kemih
– Mastitis
– Penyakit thromoembolic Postpartum
– Gangguan psychiatric pada Postpartum
– Kardiovaskuler : penurunan volume darah karena diuresis, kehilangan darah. Dapat menyebabkan orthostatik hypontention, tingginya waktu pembekuan.
– Gastrointestinal: konstipasi haemoroid
– Urinary : retensi uriene catheterisasi dapat menyebabkan UTI
– Sexsuallity: turunnya libido karena pengaruh hormon
G. Komplikasi post partum
– Infeksi pada sel reproduksi
– Infeksi pada sel kemih
– Mastitis
– Penyakit thromoembolic Postpartum
– Gangguan psychiatric pada Postpartum
BAB
III
ASKEP TEORITIS
A. Asuhan keperawatan
Menurut Marlynn E. Doengous, 2001 :
1. Pengkajian
– Aktivitas/istirahat
Insomnia mungkin teramati.
– Sirkulasi
Episode diaforetik lebih sering terjadi pada malam hari.
– Integritas ego
Peka rangsang, takut/menangis (“Postpartum blues”sering terlihat kira-kira 3 hari setelah melahirkan).
– Eliminasi
Diuresis diantara hari kedua dan kelima
– Makanan/cairan
Kehilangan nafsu makan mungkin dikeluhkan kira-kira hari ketiga
Menurut Marlynn E. Doengous, 2001 :
1. Pengkajian
– Aktivitas/istirahat
Insomnia mungkin teramati.
– Sirkulasi
Episode diaforetik lebih sering terjadi pada malam hari.
– Integritas ego
Peka rangsang, takut/menangis (“Postpartum blues”sering terlihat kira-kira 3 hari setelah melahirkan).
– Eliminasi
Diuresis diantara hari kedua dan kelima
– Makanan/cairan
Kehilangan nafsu makan mungkin dikeluhkan kira-kira hari ketiga
– Nyeri/ketidaknyamanan
Nyeri tekan payudara/pembesaran dapat terjadi diantara hari 3 sampai ke-5 pascapartum.
– Seksualitas
Uterus 1 cm diatas umbilicus pada 12 jam setelah kelahiran menurun kira-kira 1 lebar jari setiap harinya.
Lokhea rubra berlanjut sampai hari ke2 – 3 , berlanjut menjadi lokhea serosa dengan aliran tergantung pada posisi (mis, rekumben versus ambulasi berdiri) dan aktivitas (mis, menyusui).
Payudara : produksi kolostrum 48 jam pertama, berlanjut pada susu matur, biasanya pada hari ke 3; mungkin lebih didini, tergantung kapan menyusui dimulai.
Nyeri tekan payudara/pembesaran dapat terjadi diantara hari 3 sampai ke-5 pascapartum.
– Seksualitas
Uterus 1 cm diatas umbilicus pada 12 jam setelah kelahiran menurun kira-kira 1 lebar jari setiap harinya.
Lokhea rubra berlanjut sampai hari ke2 – 3 , berlanjut menjadi lokhea serosa dengan aliran tergantung pada posisi (mis, rekumben versus ambulasi berdiri) dan aktivitas (mis, menyusui).
Payudara : produksi kolostrum 48 jam pertama, berlanjut pada susu matur, biasanya pada hari ke 3; mungkin lebih didini, tergantung kapan menyusui dimulai.
B. Diagnosa keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah suatu pernyataan yang menjelaskan respon manusia ( status kesehatan atau resiko perubahan pola ) dari individu atau kelompok dimana perawat secara akuntabilitas dapat mengidentifikasi dan memberikan intervensi secara pasti untuk menjaga status kesehatan menurunkan, membatasi, mencegah dan merubah (carpenito, 2000)
Diagnosa keperawatan yang muncul pada klien Postpartum menurut Marilyn doengoes, 2001 yaitu :
– Nyeri (akut)/ketidaknyamanan berhubungan dengan trauma mekanis, edema/pembesaran jaringan atau distensi, efek-efek hormonal.
– Gangguan pemenuhan kebutuhan ADL berhubungan dengan kelemahan tubuh.
– Menyusui berhubungan dengan tingkat pengetahuan, pengalaman sebelumnya, usia gestasi bayi, tingkat dukungan, struktur karakteristik fisik payudara ibu.
– Resiko tinggi terhadap cidera berhubungan dengan biokimia, fungsi regulator (misal hipotensi ortostatik, terjadinya HKK atau eklamsia); efek anestesia; tromboembolisme; profil darah abnormal (anemia, sensivitas rubella,inkompabilitas Rh).
– Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan trauma jaringan dan/atau kerusakan kulit, penurunan Hb prosedur invasive dan /atau peningkatan peningkatan lingkungan, rupture ketuban lama, mal nutrisi.
Diagnosa keperawatan adalah suatu pernyataan yang menjelaskan respon manusia ( status kesehatan atau resiko perubahan pola ) dari individu atau kelompok dimana perawat secara akuntabilitas dapat mengidentifikasi dan memberikan intervensi secara pasti untuk menjaga status kesehatan menurunkan, membatasi, mencegah dan merubah (carpenito, 2000)
Diagnosa keperawatan yang muncul pada klien Postpartum menurut Marilyn doengoes, 2001 yaitu :
– Nyeri (akut)/ketidaknyamanan berhubungan dengan trauma mekanis, edema/pembesaran jaringan atau distensi, efek-efek hormonal.
– Gangguan pemenuhan kebutuhan ADL berhubungan dengan kelemahan tubuh.
– Menyusui berhubungan dengan tingkat pengetahuan, pengalaman sebelumnya, usia gestasi bayi, tingkat dukungan, struktur karakteristik fisik payudara ibu.
– Resiko tinggi terhadap cidera berhubungan dengan biokimia, fungsi regulator (misal hipotensi ortostatik, terjadinya HKK atau eklamsia); efek anestesia; tromboembolisme; profil darah abnormal (anemia, sensivitas rubella,inkompabilitas Rh).
– Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan trauma jaringan dan/atau kerusakan kulit, penurunan Hb prosedur invasive dan /atau peningkatan peningkatan lingkungan, rupture ketuban lama, mal nutrisi.
C. Perencanaan Asuhan Keperawatan
Perencanaan merupakan tahap ketiga dari proses keperawatan yang meliputi pengembangan strategi desain untuk mencegah, mengurangi atau mengoreksi masalah-masalah yang diidentifikasi pada diagnose keperawatan.
1. Nyeri (akut)/ ketidaknyamanan berhubungan dengan trauma mekanis, edema/pembesaran jaringan atau distensi, efek-efek hormonal.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan rasa
nyeri teratasi
Kriteria hasil : Mengidentifikasi dan mengunakan intervensi untuk mengatasi ketidaknyamanan dengan tepat, mengungkapkan berkurangnya ketidaknyamanan.
Intervensi :
Mandiri :
– Tentukan adanya lokasi, dan sifat ketidaknyamanan. Tinjau ulang persalinan dan catatan kelahiran.
– Inspeksi perbaikan perineum dan episiotomy. Perhatikan edema, ekimosis, nyeri tekan local, eksudat purulen, atau kehilangan perlekatan jaringan.
– Berikan kompres es pada perineum, khusus nya selama 24 jam pertama setelah kelahiran.
– Berikan kompres panas lembab (misal rendam duduk/bak mandi) diantara 100o dan 105o F (38o sampai 43,2o C) selam 20 menit, 3-4 kali sehari, setelah 24 jam
– Anjurkan duduk dengan otot gluteal terkontraksi diatas perbaikan episiotomy.Infeksi hemoroid pada perineum. Anjurkan penggunaan kompres es selama 20 menit setiap 4 jam, penggunaan kompres witch hazel, dan menaikan pelvis pada bantal.
– Kaji nyeri tekan uterus; tentukan adanya dan frekuensi/intensitas afterpain.
– Anjurkan klien berbaring tengkurap dengan bantal dibawah abdomen, dan melakukan tehnik visualisasi atau aktivitas pengalihan.
– Inspeksi payudara dan jaringan putting; jika adanya pembesaran dan/atau pitung pecah – pecah.
– Ajurkan untuk mengunakan bra penyokong
– Berikan informasi mengenai peningkatan frekuensi temuan, memberikan kompres panas sebelum member makan, mengubah posisi bayi dengan tepat, dan mengeluarkan susu secara berurutan , bila hanya satu putting yang sakit atau luka.
– Berikan kompres es pada area aksila payudara bila klien tidak merencanakan menyusui.
– Kaji klien terhadap kepenuhan kandung kemih.
– Evaluasi terhadap sakit kepala, khususnya setelah anesthesia subaraknoid. Hindari member obat klien sebelum sifat dan penyebab dari sakit kepala ditentukan.
Kolaborasi :
– Berikan bromokriptin mesilat (parlodel) dua kali sehari dengan makan selama 2 – 3 minggu. Kaji hipotensi pada klien; tetap dengan klien selama ambulasi pertama.
– Berikan analgesic 30 – 60 menit sebelum menyusui. Untuk klien yang tidak menyusui, berikan analgesic setiap 3 – 4 jam selama pembesaran payudara dan afterpain.
– Berikan sprei anestetik, salep topical, dan kompres witc hazel untuk perineum bila dibutuhkan.
– Bantu sesuai dengan injeksi salin atau pemberian “ blood patch “ pada sisi pungsi dural. Pertahankan klien pada posisi horizontal setelah prosedur.
2. Menyusui berhubungan dengan tingkat pengetahuan, pengalaman sebelumnya, usia gestasi bayi, tingkat dukungan, struktur karakteristik fisik payudara ibu.
Tujuan : setelah dilakukan demostrasi tentang perawatan payudara diharapkan tingkat pengetahuan ibu bertambah.
Kriteria hasil : mengungkapkan pemahaman tentang proses menyusui, mendemonstrasikan tehnik efektif dari menyusui, menunjukan kepuasan regimen menyusui satu sama lain, dengan bayi dipuaskan setelah menyusui.
Intervensi :
Mandiri :
– Kaji pengetahuan dan pengalaman klien tentang menyusui sebelumnya.
Tentukan system pendukung yang tersedia pada klien, dan sikap pasangan/keluarga.
– Berikan informasi, verbal dan tertulis, mengenai fisiologis dan keuntungan menyusui, perawatan putting dan payudara, kenutuhan diet khusus, dan factor – factor yang memudahkan atau mengganggu keberhasilan menyusui.
– Demostrasikan dan tinjauan ulang tehnik – tehnik menyusui. Perhatikan posisi bayi selama menyusui dan lama menyusui.
– Kaji putting klien; anjurkan klien melihat putting setiap habis menyusui.
– Anjurkan klien untuk mengeringkan putting dengan udara selama 20 – 30 menit setelah menyusui.
– Instruksikan klien untuk menghindari pengunaan putting kecuali secara khusus diindikasi.
– Berikan pelindung putting payudara khusus untuk klien menyusui dengan putting masuk atau datar.
Kolaborasi :
– Rujuk klien pada kelompok pendukung; misal posyandu
– Identifikasi sumber – sumber yang tersedia dimasyarakat sesuai indikasi
3. Gangguan pemenuhan kebutuhan ADL berhubungan dengan kelemahan fisik.
Tujuan :
Pemenuhan ADL terpenuhi.
Kriteria hasil :
Klien dapat memenuhi kebutuhannya (mandi, makan, dan minum).
Rencana tindakan
– Kaji tingkat kemampuan pasien dalam memenuhi kebutuhannya.
– Bantu klien dalam memenuhi kebutuhannya.
– Dekatkan alat-alat yang dibutuhkan klien.
– Libatkan keluarga dalam memenuhi kebutuhannya.
Rasionalisasi
– Sebagai indikator untuk melanjutkan tindakan selanjutnya.
– Agar kebutuhan klien dapat terpenuhi.
– Agar klien mudah menjangkau kebutuhannya.
– Dengan adanya hubungan dan kerjasama dari keluarga klien terpenuhi
4. Resiko tinggi terhadap cidera berhubungan dengan biokimia, fungsi regulator ( misal hipotensi ortostatik, terjadinya HKK atau eklamsia); efek anestesia; tromboembolisme; profil darah abnormal (anemia, sensivitas rubella, inkompabilitas Rh).
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan resiko cidera teratasi.
– Kriteria hasil : mendemonstrasikan perilaku untuk menurunkan factor – factor risiko/melindungi diri dan bebas dari komplikasi.
Intervensi :
Mandiri :
– Tinjau ulang kadar hemoglobin (Hb) darah dan kehilangan darah pada waktu melahirkan. Catat tanda – tanda anemia.
– njurkan ambulasi dan latihan dini kecuali pada klien yang mendapatkan anesthesia subaraknoid, yang mungkin yetap berbaring selama 6 – 8 jam, tanpa penggunaan bantal atau meninggikan kepala. Bantu klien dengan ambulasi awal.
– Berikan supervise yang adekuat pada mandi shower atau rendam duduk. Berikan bel pemanggil dalam jangkauan klien.
– Berikan klien terhadap hiperrefleksia, nyeri kuadran kanan atas (KKaA , sakit kepala, atau gangguan penglihatan.
– Catat efek – efek magnesium sulfat (MgSO4), bila diberikan, kaji respon patella dan pantau status pernapasan.
– Inspeksi ekstremitas bawah terhadap tanda – tanda tromboflebitis, perhatikan ada atau tidaknya tanda human.6) Berikan kompres panas local; tingkatkan tirah baring dengan meninggikan tungkai yang sakit.
– Evaluasi status rubella pada grafik prenatal, kaji klien tehadap alergi pada telur atau bulu.
Kolaborasi :
– Berikan MgSO4 melalui pompa infuse, sesuai indikasi.
– Berikan kaus kaki penyokong atau balutan elastic untuk kaki bila risiko – risiko atau gejala – gejala flebitis terjadi.
– Berikan antikoagulasi; evaluasi factor – factor koagulasi, dan perhatikan tanda – tanda kegagalan pembekuan.
– Berikan Rh0 (D) imun globulin (RhlgG) LM.dalam 72 jam pascapartum, sesuai indikasi.
5. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan trauma jaringan dan/atau kerusakan kulit, penurunan Hb prosedur invasive dan /atau peningkatan peningkatan lingkungan, rupture ketuban lama, mal nutrisi.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan infeksi tidak terjadi.
Kriteria hasil : mendemonstrasikan tehnik – tehnik untuk menurunkan risiko/meningkatkan penyembuhan, menunjukan luka yang bebas dari drainase purulen dan bebas dari infeksi, tidak febris, dan mempunyai aliran lokhial dan karakter normal.
Intervensi :
Mandiri :
– Kaji catatan prenatal dan intrapartal, perhatikan frekuensi pemeriksaan vagina dan komplikasi seperti ketuban pecah dini (KPD), persalinan lama, laserasi, hemoragi, dan tertahannya plasenta.
– Pantau suhu dan nadi dengan rutin dan sesuai indikasi ; catat tanda-tanda menggigil, anoreksia atau malaise.
– Kaji lokasi dan kontraktilitis uterus ; perhatikan perubahan involusional atau adanya nyeri tekan uterus ekstrem.Catat jumlah dan bau rabas lokhial atau perubahan pada kemajuan normal dari rubra menjadi serosa.
– Evaluasi kondisi putting, perhatikan adanya pecah-pecah, kemerahan atau nyeri tekan.
– Anjurkan pemeriksaan rutin payudara. Tinjau perawatan yang tepat dan tehnik pemberian makan bayi. (rujuk pada DK : Nyeri (akut)/ketidaknyamanan).
– Inspeksi sisi perbaikan episiotomy setiap 8 jam. Perhatikan nyeri tekan berlebihan, kemerahan, eksudat purulen, edema, sekatan pada garis sutura (kehilangan perlekatan), atau adanya laserasi.
– Perhatikan frekuensi/jumlah berkemih.
– Kaji terhadap tanda-tanda infeksi saluran kemih (ISK) atau sisitis (mis : peningkatan frekiensi, doronganatau disuria).
– Catat warna dan tampilan urin, hematuria yang terlihat, dan adanya nyeri suprapubis.
– Anjurkan perawatan perineal, dengan menggunakan botol atau rendam duduk 3 sampai 4 kali sehari atau setelah berkemih/defekasi. Anjurkan klien mandi setiap hari ganti pembalut perineal sedikitnya setiap 4 jam dari depan ke belakang.
– Anjurkan dan gunakan tehnik mencuci tangan cermat dan pembuangan pembalut yang kotor, pembalut perineal dan linen terkontaminasi dengan tepat.
– Kaji status nutrisi klien. Perhatikan tampilan rambut, kuku, kulit, dan sebagainya.Catat berat badan kehamilan dan penambahan berat badan prenatal.
– Berikan informasi tentang makanan pilihan tinggi protein, vitamin C, dan zat besi.
– Anjurkan klien untuk meningkatkan masukan cairan sampai 2000 ml/hari.
– Tingkatkan tidur dan istitahat.
Kolaborasi :
– Kaji jumlah sel darah putih (SDP).
Perencanaan merupakan tahap ketiga dari proses keperawatan yang meliputi pengembangan strategi desain untuk mencegah, mengurangi atau mengoreksi masalah-masalah yang diidentifikasi pada diagnose keperawatan.
1. Nyeri (akut)/ ketidaknyamanan berhubungan dengan trauma mekanis, edema/pembesaran jaringan atau distensi, efek-efek hormonal.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan rasa
nyeri teratasi
Kriteria hasil : Mengidentifikasi dan mengunakan intervensi untuk mengatasi ketidaknyamanan dengan tepat, mengungkapkan berkurangnya ketidaknyamanan.
Intervensi :
Mandiri :
– Tentukan adanya lokasi, dan sifat ketidaknyamanan. Tinjau ulang persalinan dan catatan kelahiran.
– Inspeksi perbaikan perineum dan episiotomy. Perhatikan edema, ekimosis, nyeri tekan local, eksudat purulen, atau kehilangan perlekatan jaringan.
– Berikan kompres es pada perineum, khusus nya selama 24 jam pertama setelah kelahiran.
– Berikan kompres panas lembab (misal rendam duduk/bak mandi) diantara 100o dan 105o F (38o sampai 43,2o C) selam 20 menit, 3-4 kali sehari, setelah 24 jam
– Anjurkan duduk dengan otot gluteal terkontraksi diatas perbaikan episiotomy.Infeksi hemoroid pada perineum. Anjurkan penggunaan kompres es selama 20 menit setiap 4 jam, penggunaan kompres witch hazel, dan menaikan pelvis pada bantal.
– Kaji nyeri tekan uterus; tentukan adanya dan frekuensi/intensitas afterpain.
– Anjurkan klien berbaring tengkurap dengan bantal dibawah abdomen, dan melakukan tehnik visualisasi atau aktivitas pengalihan.
– Inspeksi payudara dan jaringan putting; jika adanya pembesaran dan/atau pitung pecah – pecah.
– Ajurkan untuk mengunakan bra penyokong
– Berikan informasi mengenai peningkatan frekuensi temuan, memberikan kompres panas sebelum member makan, mengubah posisi bayi dengan tepat, dan mengeluarkan susu secara berurutan , bila hanya satu putting yang sakit atau luka.
– Berikan kompres es pada area aksila payudara bila klien tidak merencanakan menyusui.
– Kaji klien terhadap kepenuhan kandung kemih.
– Evaluasi terhadap sakit kepala, khususnya setelah anesthesia subaraknoid. Hindari member obat klien sebelum sifat dan penyebab dari sakit kepala ditentukan.
Kolaborasi :
– Berikan bromokriptin mesilat (parlodel) dua kali sehari dengan makan selama 2 – 3 minggu. Kaji hipotensi pada klien; tetap dengan klien selama ambulasi pertama.
– Berikan analgesic 30 – 60 menit sebelum menyusui. Untuk klien yang tidak menyusui, berikan analgesic setiap 3 – 4 jam selama pembesaran payudara dan afterpain.
– Berikan sprei anestetik, salep topical, dan kompres witc hazel untuk perineum bila dibutuhkan.
– Bantu sesuai dengan injeksi salin atau pemberian “ blood patch “ pada sisi pungsi dural. Pertahankan klien pada posisi horizontal setelah prosedur.
2. Menyusui berhubungan dengan tingkat pengetahuan, pengalaman sebelumnya, usia gestasi bayi, tingkat dukungan, struktur karakteristik fisik payudara ibu.
Tujuan : setelah dilakukan demostrasi tentang perawatan payudara diharapkan tingkat pengetahuan ibu bertambah.
Kriteria hasil : mengungkapkan pemahaman tentang proses menyusui, mendemonstrasikan tehnik efektif dari menyusui, menunjukan kepuasan regimen menyusui satu sama lain, dengan bayi dipuaskan setelah menyusui.
Intervensi :
Mandiri :
– Kaji pengetahuan dan pengalaman klien tentang menyusui sebelumnya.
Tentukan system pendukung yang tersedia pada klien, dan sikap pasangan/keluarga.
– Berikan informasi, verbal dan tertulis, mengenai fisiologis dan keuntungan menyusui, perawatan putting dan payudara, kenutuhan diet khusus, dan factor – factor yang memudahkan atau mengganggu keberhasilan menyusui.
– Demostrasikan dan tinjauan ulang tehnik – tehnik menyusui. Perhatikan posisi bayi selama menyusui dan lama menyusui.
– Kaji putting klien; anjurkan klien melihat putting setiap habis menyusui.
– Anjurkan klien untuk mengeringkan putting dengan udara selama 20 – 30 menit setelah menyusui.
– Instruksikan klien untuk menghindari pengunaan putting kecuali secara khusus diindikasi.
– Berikan pelindung putting payudara khusus untuk klien menyusui dengan putting masuk atau datar.
Kolaborasi :
– Rujuk klien pada kelompok pendukung; misal posyandu
– Identifikasi sumber – sumber yang tersedia dimasyarakat sesuai indikasi
3. Gangguan pemenuhan kebutuhan ADL berhubungan dengan kelemahan fisik.
Tujuan :
Pemenuhan ADL terpenuhi.
Kriteria hasil :
Klien dapat memenuhi kebutuhannya (mandi, makan, dan minum).
Rencana tindakan
– Kaji tingkat kemampuan pasien dalam memenuhi kebutuhannya.
– Bantu klien dalam memenuhi kebutuhannya.
– Dekatkan alat-alat yang dibutuhkan klien.
– Libatkan keluarga dalam memenuhi kebutuhannya.
Rasionalisasi
– Sebagai indikator untuk melanjutkan tindakan selanjutnya.
– Agar kebutuhan klien dapat terpenuhi.
– Agar klien mudah menjangkau kebutuhannya.
– Dengan adanya hubungan dan kerjasama dari keluarga klien terpenuhi
4. Resiko tinggi terhadap cidera berhubungan dengan biokimia, fungsi regulator ( misal hipotensi ortostatik, terjadinya HKK atau eklamsia); efek anestesia; tromboembolisme; profil darah abnormal (anemia, sensivitas rubella, inkompabilitas Rh).
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan resiko cidera teratasi.
– Kriteria hasil : mendemonstrasikan perilaku untuk menurunkan factor – factor risiko/melindungi diri dan bebas dari komplikasi.
Intervensi :
Mandiri :
– Tinjau ulang kadar hemoglobin (Hb) darah dan kehilangan darah pada waktu melahirkan. Catat tanda – tanda anemia.
– njurkan ambulasi dan latihan dini kecuali pada klien yang mendapatkan anesthesia subaraknoid, yang mungkin yetap berbaring selama 6 – 8 jam, tanpa penggunaan bantal atau meninggikan kepala. Bantu klien dengan ambulasi awal.
– Berikan supervise yang adekuat pada mandi shower atau rendam duduk. Berikan bel pemanggil dalam jangkauan klien.
– Berikan klien terhadap hiperrefleksia, nyeri kuadran kanan atas (KKaA , sakit kepala, atau gangguan penglihatan.
– Catat efek – efek magnesium sulfat (MgSO4), bila diberikan, kaji respon patella dan pantau status pernapasan.
– Inspeksi ekstremitas bawah terhadap tanda – tanda tromboflebitis, perhatikan ada atau tidaknya tanda human.6) Berikan kompres panas local; tingkatkan tirah baring dengan meninggikan tungkai yang sakit.
– Evaluasi status rubella pada grafik prenatal, kaji klien tehadap alergi pada telur atau bulu.
Kolaborasi :
– Berikan MgSO4 melalui pompa infuse, sesuai indikasi.
– Berikan kaus kaki penyokong atau balutan elastic untuk kaki bila risiko – risiko atau gejala – gejala flebitis terjadi.
– Berikan antikoagulasi; evaluasi factor – factor koagulasi, dan perhatikan tanda – tanda kegagalan pembekuan.
– Berikan Rh0 (D) imun globulin (RhlgG) LM.dalam 72 jam pascapartum, sesuai indikasi.
5. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan trauma jaringan dan/atau kerusakan kulit, penurunan Hb prosedur invasive dan /atau peningkatan peningkatan lingkungan, rupture ketuban lama, mal nutrisi.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan infeksi tidak terjadi.
Kriteria hasil : mendemonstrasikan tehnik – tehnik untuk menurunkan risiko/meningkatkan penyembuhan, menunjukan luka yang bebas dari drainase purulen dan bebas dari infeksi, tidak febris, dan mempunyai aliran lokhial dan karakter normal.
Intervensi :
Mandiri :
– Kaji catatan prenatal dan intrapartal, perhatikan frekuensi pemeriksaan vagina dan komplikasi seperti ketuban pecah dini (KPD), persalinan lama, laserasi, hemoragi, dan tertahannya plasenta.
– Pantau suhu dan nadi dengan rutin dan sesuai indikasi ; catat tanda-tanda menggigil, anoreksia atau malaise.
– Kaji lokasi dan kontraktilitis uterus ; perhatikan perubahan involusional atau adanya nyeri tekan uterus ekstrem.Catat jumlah dan bau rabas lokhial atau perubahan pada kemajuan normal dari rubra menjadi serosa.
– Evaluasi kondisi putting, perhatikan adanya pecah-pecah, kemerahan atau nyeri tekan.
– Anjurkan pemeriksaan rutin payudara. Tinjau perawatan yang tepat dan tehnik pemberian makan bayi. (rujuk pada DK : Nyeri (akut)/ketidaknyamanan).
– Inspeksi sisi perbaikan episiotomy setiap 8 jam. Perhatikan nyeri tekan berlebihan, kemerahan, eksudat purulen, edema, sekatan pada garis sutura (kehilangan perlekatan), atau adanya laserasi.
– Perhatikan frekuensi/jumlah berkemih.
– Kaji terhadap tanda-tanda infeksi saluran kemih (ISK) atau sisitis (mis : peningkatan frekiensi, doronganatau disuria).
– Catat warna dan tampilan urin, hematuria yang terlihat, dan adanya nyeri suprapubis.
– Anjurkan perawatan perineal, dengan menggunakan botol atau rendam duduk 3 sampai 4 kali sehari atau setelah berkemih/defekasi. Anjurkan klien mandi setiap hari ganti pembalut perineal sedikitnya setiap 4 jam dari depan ke belakang.
– Anjurkan dan gunakan tehnik mencuci tangan cermat dan pembuangan pembalut yang kotor, pembalut perineal dan linen terkontaminasi dengan tepat.
– Kaji status nutrisi klien. Perhatikan tampilan rambut, kuku, kulit, dan sebagainya.Catat berat badan kehamilan dan penambahan berat badan prenatal.
– Berikan informasi tentang makanan pilihan tinggi protein, vitamin C, dan zat besi.
– Anjurkan klien untuk meningkatkan masukan cairan sampai 2000 ml/hari.
– Tingkatkan tidur dan istitahat.
Kolaborasi :
– Kaji jumlah sel darah putih (SDP).
C. Pelaksanaan/ Implementasi
Pelaksanaan keperawatan merupakan proses keperawatan yang mengikuti rumusan dari rencana keperawatan. Pelaksanaan keperawatan mencakup melakukan, membantu, memberikan askep untuk mencapai tujuan yang berpusat pada klien, mencatat serta melakukan pertukaran informasi yang relevan dengan perawatan kesehatan berkelanjutan dari klien.
Proses pelaksanaan keperawatan mempunyai lima tahap, yaitu :
1. Mengkaji ulang klien
Fase pengkajian ulang terhadap komponen implementasi memberikan mekanisme bagi perawat untuk menentukan apakah tindakan keperawatan yang diusulkan masih sesuai.
2. Menelaah dan modifikasi rencana asuhan keperawatan yang ada
Modifikasi rencana asuhanyang telah ada mencakup beberapa langkah. Pertama, data dalam kolom pengkajian direvisi sehingga mencerminkan status kesehatan terbaru klien.
Kedua, diagnose keperawatan direvisi. Diagnose keperawatan yang tidak relevan dihapuskan, dan diagnose keperawatan yang terbaru ditambah dan diberi tanggal.
Ketiga, metoda implementasi spesifik direvisi untuk menghubungan dengan diagnose keperawatan yang baru dan tujuan klien yang baru.
Mengidentifikasi bidang bantuan
Situasi yang membutuhkan tambahan tenaga beragam.Sebagai contoh, perawat yang ditugaskan unutk merawat klien imobilisasi mungkin membutuhkan tambahan tenaga untuk membantu membalik, memindahkan, dan mengubah posisi klien karena kerja fisik yang terlibat.
Mengimplementasikan intervensi keperawatan
Berikut metode untuk mencapai tujuan asuhan keperawatan :
1. Membantu dalam melakukan aktivitas sehari – hari
2. Mengonsulkan dan menyuluhkan pasien dan keluarga
3.Mengawasi dan mengevaluasi kerja anggota staf lainnya.
D. Evaluasi
Evaluasi merupakan kegiatan yang membandingkan antara hasil implementasi dengan criteria dan standar yang telah ditetapkan untuk melihat keberhasilannya.
Evaluasi disusun dengan mengunakan SOAP yang operasional dengan pengertian :
Ø S : adalah ungkapan perasaan dan keluhan yang dirasakan secara
subjektif oleh klien dan keluarga setelah diberikan implementasi keperawatan.
ØO :adalah keadaan objektif yang didefinisikan oleh perawat
menggunakan pengamatan yang objektif setelah implementasi keperawatan.
ØA :adalah merupakan analisis perawat setelah mengetahui respon
subjektif dan objektif klien yang dibandingkan dengan criteria dan standar yang telah ditentukan mengacu pada tujuan rencana keperawatan klien.
ØP : adalah perencanaan selanjutnya setelah perawat melakukan
analisis.
Adapun evaluasi dari semua tindakan keperawatan mengenai Asuhan Keperawatan Post Partum Normal (episiotomi) yaitu :
– Rasa nyeri teratasi
– Tingkat pengetahuan ibu bertambah mengenai perawatan payudara
– Pemenuhan ADL terpenuhi.
– Resiko cidera tidak terjadi
– Infeksi tidak terjadi.
Evaluasi merupakan kegiatan yang membandingkan antara hasil implementasi dengan criteria dan standar yang telah ditetapkan untuk melihat keberhasilannya.
Evaluasi disusun dengan mengunakan SOAP yang operasional dengan pengertian :
Ø S : adalah ungkapan perasaan dan keluhan yang dirasakan secara
subjektif oleh klien dan keluarga setelah diberikan implementasi keperawatan.
ØO :adalah keadaan objektif yang didefinisikan oleh perawat
menggunakan pengamatan yang objektif setelah implementasi keperawatan.
ØA :adalah merupakan analisis perawat setelah mengetahui respon
subjektif dan objektif klien yang dibandingkan dengan criteria dan standar yang telah ditentukan mengacu pada tujuan rencana keperawatan klien.
ØP : adalah perencanaan selanjutnya setelah perawat melakukan
analisis.
Adapun evaluasi dari semua tindakan keperawatan mengenai Asuhan Keperawatan Post Partum Normal (episiotomi) yaitu :
– Rasa nyeri teratasi
– Tingkat pengetahuan ibu bertambah mengenai perawatan payudara
– Pemenuhan ADL terpenuhi.
– Resiko cidera tidak terjadi
– Infeksi tidak terjadi.
BAB IV
ASUHAN
KEPERAWATAN
I.
PENGKAJIAN
A. Data Demografi
1. Nama klien : Ny.
SR
2. Umur klien : 25
tahun 4 bulan (3-07-1979)
3. Jenis kelamin :
Perempuan
4. Nama suami :
Tn. Wahyunta
5. Umur suami :
29 tahun
6. Alamat :
Pasaman
barat
7. Status perkawinan :
Kawin
8. A g a m a :
Islam
9. S u k u :
Jawa
10. Pendidikan :
SLTA
11. Pekerjaan :
Ibu rumah tangga
12. Diagnosa medik :
Post partum hari ke-0
13. Tanggal masuk RS :
03-03-2015
14. No. RM
:
00986926
15. Tgl Pengkajian
:
03-03-2015
B. Keluhan Utama Saat Ini
Ibu
menyatakan nyeri pada daerah kemaluan terutama jika untuk duduk dan berjalan.
C. Riwayat Penyakit Dahulu
Ibu mengatakan tidak memiliki riwayat penyakit berat hingga harus ke
rumah sakit.
D. Riwayat Persalinan dan Kelahiran Saat Ini
1. Lama persalinan:
a. Kala I 4 jam 20 menit
b. Kala II 5 menit
c.
Kala III 5 menit
Total waktu persalinan 4 jam 30 menit.
2. Posisi fetus memanjang, punggung kiri, dengan
presentasi kepala.
3. Tipe kelahiran spontan.
4. Penggunaan analgesik dan anestesi, selama proses
persalinan ibu tidak diberikan analgesik dan anestesi.
5. Masalah selama persalinan tidak ada bayi lahir
spontan, terjadi ruptur perineum derajat I dengan jahitan dalam 1 luar 1.
Jumlah perdarahan kala I 0 cc, kala II 0 cc, kala III 100 cc, kala IV 50 cc.
Total perdarahan 150 cc.
E. Data Bayi Saat Ini
1. Keadaan umum bayi baru lahir (Jenis kelamin:
Laki-laki)
a. Berat badan :
3100 Gram.
b. Panjang badan : 45 Cm.
c. Lingkar kepala : 32 Cm.
d. Lingkar dada :
33 Cm.
e. Lingkar perut :
31,5 Cm.
f. Lingkar lengan atas :
10,5 Cm.
2. Apgar Score
|
No
|
Tgl/Jam
|
Karakteristik
Penilaian
|
Menit 1
|
Menit 5
|
|
1.
|
3-11-2004
|
Denyut
jantung
|
2
|
2
|
|
2.
|
06.25 WIB
|
Pernapasan
|
2
|
2
|
|
3.
|
Refleks
|
1
|
1
|
|
|
4.
|
Tonus otot
|
1
|
2
|
|
|
5.
|
Warna
kulit
|
1
|
2
|
|
|
Total
|
7
|
9
|
||
|
Kesimpulan:
Bayi normal tidak mengalami asfiksia.
|
||||
F. Keadaan Psikologis Ibu
Ibu merasa baik-baik saja, senang bayinya lahir dengan selamat tanpa
masalah mengingat usia kehamilannya lebih dari 9 bulan (45 minggu).
G. Riwayat Penyakit Keluarga
Ibu mengatakan bahwa dalam keluarga tidak ada yang menderita penyakit
hipertensi, gula, atau penyakit menurun lainnya. Juga tidak ada yang menderita
penyakit menular.
H. Riwayat Ginekologi
Ibu mengalami menarche pada usia 14 tahun, lama menstruasi 5 hari dengan
siklus 30 hari. Darah yang keluar biasanya cukup banyak, encer, berwarna merah,
dengan bau amis. Hari pertama menstruasi terakhir (HPHT) 09-01-2004 dengan Hari
perkiraan lahir (HPL) 16-10-2004.
Ibu merupakan akseptor IUD dan sudah dipakai selama 2 tahun sebelum gagal
dan diekstraksii pada bulan Maret 2004.
I. Riwayat Obstetri
Ibu G2P1A0
, anak pertama laki-laki usia 3 tahun dengan BBL 3200 gram, lahir spontan, di
RS Dr Sardjito.
J. Review of System dan Pemeriksaan Fisik
1. Penampilan umum :
Ibu tampak rapi, terlihat lelah, berjalan dengan bantuan dan tertatih-tatih.
2. Berat badan :
60 Kg.
3. Tinggi badan :
151 Cm.
4. Tanda-tanda vital :
TD: 110/80 mmHg , N: 84 kali/menit, R: 24 kali/menit, S: 36,5 oC.
|
No.
|
Komponen
|
Review of System
|
Pemeriksaan Fisik
|
|
1.
|
Kulit, rambut, kuku
|
Ibu mengatakan setelah melahirkan langsung dimandikan oleh bidan, kuku
sudah dipotong sejak dari rumah.
Tidak ada keluhan.
|
Kulit bersih, turgor kulit baik, lembab, rambut bersih tidak rontok,
kuku rapi dan pendek.
|
|
2.
|
Kepala dan leher
|
Ibu mengatakan tadi pagi sudah mencuci muka sekalian mandi, tidak ada
keluhan.
|
Ekspresi
wajah merintih ketika bergerak atau duduk. Tampak lelah.
Tidak ada oedema, konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik,
penglihatan normal, kelenjar tiroid tidak membesar, kelenjar limfe tidak
teraba, vena jugularis tidak meningkat, tidak terdapat bekas operasi.
|
|
3.
|
Telinga
|
Tidak ada keluhan.
|
Bersih, discharge tidak ada, pendengaran normal.
|
|
4.
|
Mulut, tenggorokan, hidung
|
Tidak ada keluhan.
|
Bersih, tidak terdapat karies gigi, tidak ada stomatitis, sekret
hidung bersih, tidak memakai alat bantu, fungsi baik.
|
|
5.
|
Thoraks dan paru-paru
|
Tidak ada keluhan.
|
Simetris kanan-kiri, tidak ada ketinggalan gerak, paru dalam batas
normal, tidak terdengar suara nafas tambahan.
|
|
6.
|
Payudara
|
Ibu mengatakan air susu sudah keluar dan akan menyusui bayinya setelah
istirahat.
|
Lunak, puting susu menonjol keluar, ASI sudah keluar.
|
|
7.
|
Jantung
|
Tidak ada keluhan.
|
Tidak membesar, ictus kordis pada ICS ke 5, tidak ada bising jantung.
|
|
8.
|
Abdomen
|
Ibu
mengatakan perut terasa mual-mual dan seperti dipelintir.
|
Terdapat striae gravidarum, tinggi fundus uteri 2 jari dibawah pusat,
teraba lunak, peristaltik positif agak lemah.
|
|
9.
|
Genetalia
|
Ibu
mengatakan nyeri pada daerah kemaluan terutama jika untuk bergerak dan duduk,
nyeri tajam, perih, lokasi pada daerah perineum, nyeri sedang skala 6.
Ibu
menyatakan sudah buang air kecil 1 kali.
|
Lochia jumlahnya sedang, warna merah gelap, terdapat bekuan kecil.
|
|
10.
|
Anus dan rektum
|
Ibu mengatakan buang air besar tadi malam sebelum melahirkan, setelah
melahirkan sampai sekarang belum.
|
Terdapat ruptur perineum dengan jahitan luar 1 jenis Zide. Luka tampak basah.
|
|
11.
|
Musculoskeletal
|
Tidak ada keluhan.
|
Refleks positif,, tidak ada varises, tidak terjadi oedema, tanda-tanda
REEDA negatif, kekuatan otot 5, ROM normal.
|
K. Riwayat Kesehatan
|
No.
|
Komponen
|
Hasil
|
|
1.
|
Pola
persepsi kesehatan-pemeliharaan kesehatan
|
Ibu
mengatakan bayi ini merupakan anak kedua, anak pertamanya dulu juga
dilahirkan di Sardjito, jadi ibu merasa yakin atas kemampuannya untuk merawat
bayinya ini.
Selama ini
ibu rajin memeriksakan diri ke dokter kandungan, jika merasa tidak enak badan
juga langsung ke Puskesmas atau dokter praktek.
|
|
2.
|
Pola nutrisi-metabolisme
|
Ibu makan
3 kali sehari, minum 6-8 gelas perhari, selama hamil muda merasa mual muntah
tapi semakin bertambah usia kehamilan gejala semakin hilang. Sekarang ibu
sudah mulai makan makanan kecil yang dibawa oleh suaminya.
|
|
3.
|
Pola aktifitas-latihan
|
Selama
hamil ibu sering jalan-jalan bersama suami dan aktivitas sehari-hari apat
dilakukan mandiri, sekarang ibu merasa lelah dan ingin tidur, juga tampak
berhati-hati ketika bergerak di tempat tidur.
Ibu tidak
mampu masuk dan keluar dari kamar mandi sehingga aktivitas kebersihan diri
dibantu oleh keluarga.
|
|
4.
|
Pola eliminasi
|
Biasanya
ibu bab 1-2 kali sehari dengan konsistensi lunak dan bak 6-8 kali sehari
selama hamil. Setelah melahirkan bab belum sedangkan bak 1 kali tadi pagi.
|
|
5.
|
Pola isitirahat-tidur
|
Selama
hamil istirahat/tidur tidak ada gangguan, tidur siang selama 2 jam dan malam
tidur jam 21.00 WIB dan bangun pagi jam 04.30 WIB. Semalam ibu tiak dapat
tidur karena dalam proses persalinan, baru setelah bayi lahir dan ibu
dimandikan dapat tidur sebentar.
|
|
6.
|
Pola persepsi-kognitif
|
Ibu
mengatakan merasa sakit pada daerah kemaluan.
Ibu juga mengatakan bahwa kehamilan yang sekarang ini tidak disengaja
karena gagalnya IUD, tetapi ibu dan suaminya merasa senang juga dengan
kehadiran anak yang kedua ini.
|
|
7.
|
Pola
persepsi terhadap diri
|
Ibu sangat
kooperatif terhadap tindakan keperawatan yang diberikan dan meyakini bahwa
semua tindakan itu adalah untuk mempercepat menolong diri dan bayinya.
|
|
8.
|
Pola
hubungan-peran
|
Orang
terdekat adalah suaminya dan ibunya yang selalu mendampingi. Ibu mengatakan
selama ini hubungan antar anggota keluarga dan masyarakat sekitar baik-baik
saja.
|
|
9.
|
Pola seksualitas-reproduksi
|
Selama
hamil sudah ada kesepakatan dengan suami untuk mengurangi frekwensi hubungan
seksual. Tidak ada gangguan dalam melakukan akttifitas tersebut, juga tidak
terjadi kontak bleeding.
|
|
10.
|
Pola stress-koping
|
Ibu berpenampilan rapi, berbicara pelan-pelan, dan selalu minta
pertimbangan suami atau ibunya jika ada masalah atau harus mengambil
keputusan.
|
|
11.
|
Pola kepercayaan-nilai-nilai
|
Ibu berasal dari suku jawa dan beragama Islam sehingga kebudayaan yang
umum di masyarakat masih dilakukan seperti tujuh bulanan dan selamatan. Ibu
merasa sangat bersyukur bayinya dapat lahir selamat mengingat usia kehamilan
yang mundur.
|
L. Profil Keluarga
1. Pendukung keluarga
Ibu tinggal serumah dengan suami, satu anaknya, dan satu adiknya.Jika
ada apa-apa biasa minta tolong kepada orang tuanya.Hubungan dengan masyarakat
sekitar juga baik.
2.
Jumlah anak
Dua dengan anak yang sekarang.Anak pertama laki-laki, anak kedua
perempuan.
3.
Tipe rumah dan komunitas
Rumah milik sendiri dengan bangunan permanen, lantai keramik dengan
ventilasi dan cahaya yang cukup. Sumber air PAM dan memiliki WC sendiri. Jarak
dengan tetangga dekat dan tipe komunitas masyarakat desa dengan budaya gotong
royong.
4.
Pekerjaan
Ibu tidak bekerja, di rumah saja mengurus anaknya, sedangkan suaminya
adalah seorang pegawaii negeri sipil (Guru).
5.
Tingkat pendidikan
Ibu berpendidikan terakhir SLTA sedangkan suaminya sarjana.
6.
Tingkat sosial ekonomi
Menengah dengan penghasilan perbulan ± Rp 750.000.00.
M. Riwayat dan Rencana Keluarga Berencana
Ibu pernah menggunakan IUD selama 2 tahun tapi gagal, ibu merasa tidak
nyaman akhirnya diekstraksi pada bulan Maret 2004. Ibu mengatakan berencana
akan memakai IUD lagi.
N. Pemeriksaan Laboratorium atau Hasil Pemeriksaan Diagnostik Lainnya
|
Tanggal
dan Jenis Pemeriksaan
|
Hasil
pemeriksaan dan Nilai
Normal
|
Interpretasi
|
|
Tanggal 03-11-2004
Lab. Darah :
HB
AL
AE
AT
HCT
Golongan Darah
|
9,9
(11,5-16,5)
13,3 (4-11)
4.35 (3,8-5,8)
152 (150-450)
30 (37-47)
AB
|
Turun
Naik
Normal
Normal
Turun
|
O. Terapi Medis yang Diberikan
|
Tanggal
|
Jenis Terapi
|
Rute Terapi
|
Dosis
|
Indikasi Terapi
|
|
3-03-2015
|
Amoxycillin
Asam Mefenamat
Emineton
|
Oral
Oral
Oral
|
3 x 500 Mg
3 x 500 Mg
1 x 1 tab.
|
Antibiotik (mencegah infeksi)
Analgetik (mengurangi nyeri)
Derivat besi (mengatasi anemia)
|
|
4-03-2015
|
Amoxycillin
Asam Mefenamat
Emineton
|
Oral
Oral
Oral
|
3 x 500 Mg
3 x 500 Mg
1 x 1 tab.
|
Antibiotik (mencegah infeksi)
Analgetik (mengurangi nyeri)
Derivat besi (mengatasi anemia)
|
|
5-03-2015
|
Amoxycillin
Asam Mefenamat
Emineton
|
Oral
Oral
Oral
|
3 x 500 Mg
3 x 500 Mg
1 x 1 tab.
|
Antibiotik (mencegah infeksi)
Analgetik (mengurangi nyeri)
Derivat besi (mengatasi anemia)
|
P. Analisa Data
|
Data
|
Etiologi
|
Masalah
|
|
DS:
Ibu
mengatakan nyeri pada daerah kemaluan terutama jika untuk bergerak dan duduk,
nyeri tajam, perih, lokasi pada daerah perineum, nyeri sedang skala 6.
Ibu
mengatakan perut terasa mual-mual dan seperti dipelintir.
DO:
Tampak
berhati-hati ketika bergerak di tempat tidur.
Ekspresi wajah
merintih ketika bergerak atau duduk.
Tanda-tanda vital : TD:
110/80 mmHg , N: 84 kali/menit, R: 24 kali/menit, S: 36,5 oC.
|
Robekan
Perineum
Pelepasan
Mediator kimia
(Bradikinin,histamin, prostaglandin )
Merangsang
saraf sensoris
Dipersepsikan
sebagai Nyeri di CortekCerebri
|
Nyeri akut
|
|
DS:
Ibu
mengatakan terdapat luka di kemaluannya dan rasanya sakit.
DO:
Terdapat
ruptur perineum derajat I dengan jahitan luar 1 Zide.
Luka
tampak basah.
Lb. Darah
(3-11-2004):
HB: 9,9
AL: 13,3
HCT: 30
|
Faktor
risiko:
Trauma
jaringan
Tidak
adekuatnya pertahanan sekunder tubuh
|
Risiko
infeksi
|
|
DS:
Ibu
mengatakan merasa lelah dan ingin tidur.
DO:
Ibu tidak
mampu masuk dan keluar dari kamar mandi.
Tampak
lemah.
Aktivitas
kebersihan diri dibantu oleh keluarga.
|
Kelelahan
|
Defisit
perawatan diri: Mandi/kebersihan diri, Toileting
|
II. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Sesuai
dengan prioritas diagnosa yang muncul adalah:
1. Nyeri akut berhubungan dengan Agen injuri fisik,
Kontraksi uterus.
2. Defisit perawatan diri: Mandi/kebersihan diri, Toileting
berhubungan dengan Kelelahan.
3. Risiko infeksi berhubungan dengan Faktor risiko: Trauma
jaringan, Tidak adekuatnya pertahanan sekunder tubuh.
III. RENCANA PENDIDIKAN KESEHATAN
|
Area
|
Rencana
Tindakan
|
|
Kerja
|
Memberikan
informasi bahwa selama tiga minggu post partum belum diperbolehkan bekerja
keras, seperti mengangkat ember, barang-barang yang berat, dan memperbolehkan
bekerja ringan seperti menyapu, menyetrika, dan memasak.
|
|
Istirahat
|
Mengajarkan
kepada ibu agar istirahat dengan cukup saat bayi tertidur, hal ini sangat
baik untuk memulihkan kondisi ibu walaupun ibu tidak punya masalah dengan keadaan
tidur.
|
|
Latihan
|
Mengajarkan kepada ibu bahwa latihan pada awal minggu pertama post
partum seperti menaiki tangga, senam
post partum.
|
|
Hygiene
|
Mengajarkan
pada ibu untuk selalu membersihkan daerah vagina dan perineum setelah bak
atau bab dengan air sabun.
|
|
Koitus
|
Mengajarkan
pada ibu bahwa koitus bisa dimulai apabila lokhia berubah menjadi putih dan
luka perineum sudah sembuh sempurna serta ibu merasa nyaman untuk melakukan
hubungan.
|
|
Kontrasepsi
|
Menjelaskan
kepada ibu bisa menggunakan kontrasepsi
setelah tiga minggu post partum dan apabila ibu menyusui secara penuh
dan tidak memberikan makanan tambahan pada bayi bisa dipergunakan untuk
kontrasepsi selama enam bulan post partum.
|
|
Follow up
|
Ibu bisa
mengontrolkan diri seminggu setelah persalinan dan selanjutnya kontrol sampai
42 hari post partum
|
|
Lain-lain
|
-
|
IV.Intervensi
|
No
|
Diagnosa
|
Noc
|
Nic
|
Aktivitas
|
|
|
1.
|
Nyeri akut
berhubungan dengan Agen injuri fisik, Kontraksi uterus
|
Kontrol nyeri
• Pantau TTV • Menilai gejala dari nyeri • Mengurangi nyeri dengan non analgesik • Memantau lamanya nyeri • Tingkatan nyeri • Frekuensi nyeri • Panjang episode nyeri • Ekspresi wajah saat nyeri • Perubahan frekuensi pernafasan, nadi, TD |
Manajemen nyeri
|
Manajemen nyeri
• Lakukan penilaian nyeri secara komprehensif • Kaji ketidaknyamanan secara non verbal • Evaluasi pengalaman pasien / keluarga erhadap nyeri • Tentukan tingkat kebutuhan pasien yang dapat memberikan kenyamanan pada pasien • Pemberian analgesik • Cek riwayat alergi obat • Tentukan analgesik yang cocok • Monitor TTV • Beri perawatan yang dibutuhkan |
|
|
2.
|
Defisit
perawatan diri: Mandi/kebersihan diri, Toileting berhubungan dengan
Kelelahan.
|
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama ... x 24 jam diharapkan
kebutuhan mandiri pasien terpenuhi
n Pasien dapat makan dengan bantuan orang lain/ mandiri n Pasien dapat mandi dengan bantuan orang lain n Paien dapat memakai pakaian dengan bantuan orang laian/mandiri n Pasien dapat toileting dengan bantuan alat |
Konseling perawatan diri
|
Kaji kamampuan pasien untuk perawatan diri
2. Pantau kebutuhan pasien untuk alat-alat bantu dalam makan, mandi, berpakaian dan toileting 3. Berikan bantuan pada pasien hingga pasien sepenuhnya bisa mandiri 4. Berikan dukungan pada pasien untuk menunjukkan aktivitas normal sesuai kemampuannya 5. Libatkan keluarga dalam pemenuhan kebutuhan perawatan diri pasien |
|
|
|
|||||
|
3.
|
Risiko infeksi b.d. Faktor risiko: Trauma jaringan,
Tidak adekuatnya pertahanan sekunder tubuh
|
TJ: mencegah infeksi
Kh: Hilangnya tanda infeksi |
Pengendalian infeksi
|
Mencegah terjadinya
infeksi
Kaji tanda-tanda infeksi : ukur suhu tubuh setiap 4 jam Gunakan standar pencegahan universal ; kebersihan, mencuci tangan bila akan kontak pada anak, – Kaji catatan prenatal dan intrapartal, perhatikan frekuensi pemeriksaan vagina dan komplikasi seperti ketuban pecah dini (KPD), persalinan lama, laserasi, hemoragi, dan tertahannya plasenta. – Pantau suhu dan nadi dengan rutin dan sesuai indikasi ; catat tanda-tanda menggigil, anoreksia atau malaise. – Kaji lokasi dan kontraktilitis uterus ; perhatikan perubahan involusional atau adanya nyeri tekan uterus ekstrem.Catat jumlah dan bau rabas lokhial atau perubahan pada kemajuan normal dari rubra menjadi serosa. – Evaluasi kondisi putting, perhatikan adanya pecah-pecah, kemerahan atau nyeri tekan. – Anjurkan pemeriksaan rutin payudara. Tinjau perawatan yang tepat dan tehnik pemberian makan bayi. (rujuk pada DK : Nyeri (akut)/ketidaknyamanan). – Inspeksi sisi perbaikan episiotomy setiap 8 jam. Perhatikan nyeri tekan berlebihan, kemerahan, eksudat purulen, edema, sekatan pada garis sutura (kehilangan perlekatan), atau adanya laserasi. – Perhatikan frekuensi/jumlah berkemih. – Kaji terhadap tanda-tanda infeksi saluran kemih (ISK) atau sisitis (mis : peningkatan frekiensi, doronganatau disuria). – Catat warna dan tampilan urin, hematuria yang terlihat, dan adanya nyeri suprapubis. – Anjurkan perawatan perineal, dengan menggunakan botol atau rendam duduk 3 sampai 4 kali sehari atau setelah berkemih/defekasi. Anjurkan klien mandi setiap hari ganti pembalut perineal sedikitnya setiap 4 jam dari depan ke belakang. – Anjurkan dan gunakan tehnik mencuci tangan cermat dan pembuangan pembalut yang kotor, pembalut perineal dan linen terkontaminasi dengan tepat. – Kaji status nutrisi klien. Perhatikan tampilan rambut, kuku, kulit, dan sebagainya.Catat berat badan kehamilan dan penambahan berat badan prenatal. – Berikan informasi tentang makanan pilihan tinggi protein, vitamin C, dan zat besi. – Anjurkan klien untuk meningkatkan masukan cairan sampai 2000 ml/hari. – Tingkatkan tidur dan istitahat. Kolaborasi : – Kaji jumlah sel darah putih (SDP). |
|
V.
IMPLEMENTASI DAN EVALUASI
|
No
|
Diagnosa Keperawatan
|
Implementasi
|
Evaluasi
|
|
1.
|
Nyeri akut
b.d. Agen injuri fisik, Kontraksi uterus.
|
Selasa, 3-03-2015 Jam 09.45 WIB
Mengkaji nyeri klien: PQRST.
Mengukur TTV.
Menganjurkan klien untuk melakukan mobilisasi bertahap.
Membatasi pengunjung.
Selasa, 3-03-2015 Jam 21.10 WIB
Mengkaji nyeri klien: PQRST.
Menyarankan klien untuk mengubah posisi tidur secara teratur.
Mengajarkan klien tehnik napas dalam dan masase pada daerah
ekstremitas dan punggung.
Membatasi pengunjung.
Rabu, 4-03-2015 Jam 06.00 WIB
Mengkaji nyeri klien: PQRST.
Mengukur TTV.
Memberikan analgetik asam mefenamat 500 Mg oral.
Menjelaskan tentang nyeri pada post partum.
|
Selasa, 3-03-2015 Jam 21.30 WIB
S: Ibu mengatakan masih merasa nyeri pada daerah sekitar kemaluan
meskipun sudah berkurang dibanding tadi pagi.
Nyeri tajam, perih, nyeri sedang skala 5, waktu ketika melakukan
mobilisasi/ambulasi.
Ibu mengatakan sudah mencoba turun dari tempat tidur dengan bantuan
kursi dan posisi tidur berubah-ubah.
O: Ekspresi wajah ketika melakukan ambulasi tampak menahan nyeri.
Posisi tidur miring ke kanan.
Ibu mampu mempraktekkan teknik napas dalam dan masase.
Penunggu 1 orang ibu klien.
A: Tujuan belum berhasil.
P: Lanjutkan intervensi.
Rabu, 4-03-2015 Jam 07.00
WIB
S: Ibu mengatakan nyeri jauh berkurang dibandingkan kemarin, nyeri
ringan, skala 3, lokasi di daerah sekitar kemaluan.
O: Tanda-tanda vital: TD: 120/70 mmHg, N: 80 kali/mnt, R: 24 kali/mnt,
S: 36,6oC.
Obat diminum.
Wajah tampak segar, tenang.
Dapat turun dari tempat tidur dan berjalan.
A:Tujuan berhasil sebagian.
P: Lanjutkan intervensi.
I: -
R: -
|
|
2
|
Defisit
perawatan diri: Mandi/kebersihan diri, Toileting b.d. Kelelahan.
|
Kamis, 5-03-2015 Jam Jam
09.45 WIB
Mengkaji kemampuan mandi ibu.
Mengkaji kemampuan ibu ke toilet.
Mengkaji keadaan kuku.
Kamis, 5-03-2015 Jam 21.30 WIB
Melakukan diskusi dengan ibu cara membersihkan daerah perineal.
Menganjurkan ibu pada saat mandi untuk:
- Menggunakan suhu air yang nyaman.
- Memonitor kondisi kulit.
- Menempatkan alat mandi sesuai kondisi.
- Menyediakan alat mandi pribadi.
kamis 5-03-2015 Jam 05.30 WIB
Memfasilitasi ibu untuk mandi dengan menyediakan air hangat, menjaga
privasi, melibatkan keluarga dalam membantu mandi dan toileting.
Mengkaji kemampuan klien ke toilet.
|
Kamis, 5-03-2015 Jam 22.00 WIB
S: Ibu mengatakan sudah bisa membersihkan daerah perineal yaitu dengan
sabun dan selalu dijaga kekeringannya, mengganti pembalut jika basah.
Ibu mengatakan kalau mandi dan ke toilet sementara waktu dibantu oleh
ibunya, tadi sore.
O: Aktif dalam diskusi.
A: Tujuan berhasil sebagian.
P: Lanjutkan intervensi.
kamis 5-03-2015 Jam 07.00 WIB
S: Ibu mengatakan pagi ini akan mencoba mandi sendiri ke kamar mandi.
Keluarga menyatakan akan membantu semua kebutuhan klien.
O: Ibu tampak berjalan ke kamar mandi.
Ibu mampu mandi dan melakukan eliminasi di kamar mandi.
Keluarga membantu menuntun klien dan menyediakan alat mandinya.
Ibu tampak segar dan berbau harum.
A: Tujuan berhasil.
P: Lanjutkan dengan motivasi ibu untuk melakukan aktivitas lainnya
secara mandiri.
I:-
R:-
|
|
3.
|
Risiko
infeksi b.d. Faktor risiko: Trauma jaringan, Tidak adekuatnya pertahanan
sekunder tubuh.
|
Selasa, 3-03-2015 Jam 09.45 WIB
Membatasi jumlah pengunjung.
Mengajarkan cara mencuci tangan kepada orang tua.
Menganjurkan orang tua untuk mencuci tangan sebelum dan sesudah kontak
dengan bayi.
Memonitor tanda infeksi lokal dan sistemik.
Memonitor AL.
Mengukur tanda-tanda vital.
Mengawasi tanda-tanda REEDA.
Mengobservasi kontraksi uterus.
Selasa, 3-03-2015 Jam 21.30 WIB
Menganjurkan ibu dan keluarga untuk:
- Menjaga kebersihan kamar.
- membatasi jumlah pengunjung.
- Memberikan nutrisi yang adekuat.
- Memberikan cairan dan istirahat yang
cukup.
- Menjaga kebersihan dan melakukan
perawatan kulit.
- Melakukan aktivitas dan mobilisasi.
Mengajarkan ibu dan keluarga tentang tanda-tanda infeksi, cara
mencegah infeksi.
Rabu, 4-03-2015Jam
05.30 WIB
Meginspeksi kulit dan mukosa dari kemerahan, panas, atau drainase.
Memonitor pengeluaran lokhia.
Memonitor involusi uterus dan tinggi fundus uteri.
Memonitor tanda-tanda vital.
Mengawasi tanda-tanda REEDA.
Mencuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan.
Memberikan antibiotik Amoxycillin 500 Mg per oral dan derivat besi
Emineton 1 tablet.
|
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Persalinan adalah proses fisiologis yang akan dialami wanita untuk mengeluarkan hasil konsepsi yang hidup dari uterus, sedangkan pasca persalinan adalah waktu penyembuhan untuk kembali kepada keadaan tidak hamil dan penyesuaian terhadap penambahan keluarga baru mulai dari selesai persalinan sampai kira-kira 6 minggu, tetapi alat genital baru pulih 3 bulan setelah persalinan
B. Kritik dan Saran
Makalah kami masih jauh dari kesempurnaan karena keterbatasan kami. Besar harapan kami kepada para pembaca untuk bisa memberikan kritik dan saran yang bersifat membangun agar makalah ini menjadi lebih sempurna.
Persalinan adalah proses fisiologis yang akan dialami wanita untuk mengeluarkan hasil konsepsi yang hidup dari uterus, sedangkan pasca persalinan adalah waktu penyembuhan untuk kembali kepada keadaan tidak hamil dan penyesuaian terhadap penambahan keluarga baru mulai dari selesai persalinan sampai kira-kira 6 minggu, tetapi alat genital baru pulih 3 bulan setelah persalinan
B. Kritik dan Saran
Makalah kami masih jauh dari kesempurnaan karena keterbatasan kami. Besar harapan kami kepada para pembaca untuk bisa memberikan kritik dan saran yang bersifat membangun agar makalah ini menjadi lebih sempurna.
DAFTAR PUSTAKA
Doengoes, Marlin E.2001. Rencana
Perawatan Maternal/Bayi.Jakarta : EGC
Helen Farrer, 1996. Perawatan Maternitas. Jkarta : EGC
Ida Bagus Gde Manuaba. Ilmu Kebidanan Penyakit Kandungan dan KB untuk
Pendidikan Bidan : Jakarta EGC
Judi Januadi Endjun.2002. Persalinan Sehat. Puspa Swara
Mansjoer, Arief. 1999. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi III Jilid I. Jakarta : Media
Sudi Amus.2011. laporan-pendahuluan-asuhan-keperawatan.html (online) http://diaryofeffatazebaoth.blogspot.com/2011/02/laporan-pendahuluan-asuhan-
Helen Farrer, 1996. Perawatan Maternitas. Jkarta : EGC
Ida Bagus Gde Manuaba. Ilmu Kebidanan Penyakit Kandungan dan KB untuk
Pendidikan Bidan : Jakarta EGC
Judi Januadi Endjun.2002. Persalinan Sehat. Puspa Swara
Mansjoer, Arief. 1999. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi III Jilid I. Jakarta : Media
Sudi Amus.2011. laporan-pendahuluan-asuhan-keperawatan.html (online) http://diaryofeffatazebaoth.blogspot.com/2011/02/laporan-pendahuluan-asuhan-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar